BERIKABARNEWS l BANDUNG – Indonesia dan Malaysia sepakat memperkuat kerja sama keimigrasian untuk mencegah kejahatan lintas negara dan meningkatkan keamanan perbatasan. Kesepakatan tersebut dibahas dalam Pertemuan Bilateral Ke-3 Imigrasi Indonesia dan Jabatan Imigresen Malaysia di Bandung, Jawa Barat, Selasa (13/10/2026).
Pertemuan itu dipimpin Direktur Jenderal Imigrasi Indonesia, Hendarsam Marantoko, bersama Ketua Pengarah Jabatan Imigresen Malaysia, Dato’ Zakaria bin Shaaban.
Kedua negara menyoroti tingginya mobilitas masyarakat lintas batas yang berpotensi menimbulkan ancaman keamanan. Isu yang dibahas meliputi pemberantasan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), penyelundupan manusia, penipuan daring (online scam), penyalahgunaan dokumen, hingga persoalan kedaulatan wilayah perbatasan.
Baca Juga : Sarawak Buka Kantor Perdagangan dan Pariwisata di Pontianak
Untuk menghadapi perkembangan modus kejahatan, Indonesia dan Malaysia mendorong penguatan Joint Immigration Enforcement Task Force (JIETF). Tim gabungan ini diharapkan mempercepat pertukaran informasi, mendukung deteksi dini, meningkatkan pengawasan berbasis risiko, serta memperkuat koordinasi penegakan hukum.
Kedua pihak juga menyepakati pemanfaatan teknologi modern untuk mendukung pengelolaan dan pemulangan warga negara Indonesia (WNI) dari Malaysia agar berlangsung aman, teratur, dan manusiawi.
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan keimigrasian menegaskan bahwa kerja sama antarnegara tidak hanya bertujuan menjaga perbatasan, tetapi juga melindungi masyarakat di kedua negara.
Baca Juga : Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 3,17 Kg Sabu dari Malaysia di Inhil
Kerja sama ini turut menekankan pentingnya perlindungan korban tindak pidana perdagangan orang. Penanganan kasus keimigrasian tidak hanya berfokus pada penindakan terhadap pelaku, tetapi juga pada keselamatan korban.
Perlindungan khusus menjadi perhatian bagi warga yang terjebak tawaran pekerjaan palsu hingga mengalami eksploitasi atau dipaksa terlibat dalam jaringan penipuan daring.
Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia dan Malaysia berharap pengawasan perbatasan semakin kuat, mobilitas masyarakat berlangsung aman, serta perlindungan bagi warga negara kedua pihak semakin optimal.*
