Anwar Ibrahim Sentil AS soal Penangkapan Presiden Venezuela

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan pernyataan terkait penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (x.com/anwaribrahim)

BERIKABARNEWS l – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer besar-besaran di Caracas. Anwar menilai tindakan tersebut mencederai kedaulatan negara dan melanggar prinsip hukum internasional.

Melalui pernyataan resmi di akun media sosial X miliknya, Anwar menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer untuk menjatuhkan pemimpin negara berdaulat merupakan preseden berbahaya bagi tatanan global. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi melemahkan norma dasar hubungan antarnegara.

“Pemimpin Venezuela dan istrinya ditangkap dalam operasi militer Amerika Serikat dengan cakupan dan sifat yang tidak biasa. Tindakan ini merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional,” tulis Anwar Ibrahim. Ia mendesak agar Nicolas Maduro dan istrinya segera dibebaskan tanpa penundaan.

Anwar juga menyoroti dampak intervensi asing terhadap rakyat Venezuela yang saat ini tengah menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan dan ketegangan sosial. Ia menegaskan bahwa perubahan kepemimpinan yang dipaksakan dari luar justru berisiko memperdalam penderitaan masyarakat sipil.

“Adalah hak rakyat Venezuela untuk menentukan masa depan politik mereka sendiri,” tegas Anwar. Ia menyerukan de-eskalasi dan dialog sebagai jalan paling kredibel untuk menjaga stabilitas dan melindungi warga sipil.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Baca Juga : Trump Klaim AS Tangkap Nicolas Maduro Usai Serangan di Caracas

Situasi Venezuela memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa pasukan elit Amerika Serikat berhasil menangkap Nicolas Maduro dan istrinya dalam sebuah operasi yang disebutnya “brilian”.

Laporan dari Caracas menyebutkan adanya ledakan besar dan aktivitas udara intens sejak Sabtu dini hari, dengan sejumlah lokasi strategis menjadi sasaran operasi militer.

Pemerintah Venezuela menuduh Amerika Serikat melakukan agresi militer serius, sementara keberadaan Maduro pasca-pengumuman keadaan darurat belum dikonfirmasi secara resmi.

Ketegangan regional pun meningkat, mendorong Presiden Kolombia Gustavo Petro menyerukan pertemuan darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta memperketat pengamanan perbatasan. *

Trump Ungkap Rencana Serangan Darat ke Kartel Narkoba Meksiko

BERIKABARNEWS l WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald...

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan terkait rencana serangan darat terhadap kartel narkoba di Meksiko. (instagram.com/whitehouse)

Trump Hidupkan Lagi Rencana Akuisisi Greenland, Opsi Militer Dibahas

BERIKABARNEWS l WASHINGTON – Ketegangan diplomatik di wilayah...

Presiden AS Donald Trump berbicara soal rencana akuisisi Greenland sebagai bagian strategi keamanan Arktik. (instagram.com/whitehouse)

Bukan Sekadar Tuduhan, Maduro Nyatakan Tak Bersalah di Pengadilan AS

BERIKABARNEWS l NEW YORK – Mantan Presiden Venezuela...

Nicolas Maduro diborgol dan dibawa oleh pasukan AS setelah penangkapannya di Caracas. (x.com/Kikinroks1)

Penangkapan Nicolas Maduro oleh AS Picu Kecaman Global

BERIKABARNEWS l – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro...

Presiden Venezuela Nicolas Maduro terlihat ditangkap oleh militer Amerika Serikat dalam operasi di Caracas. (x.com/SeanMcCrossenX)

Trump Ancam Kolombia Usai Tangkap Presiden Venezuela

BERIKABARNEWS l – Ketegangan geopolitik di Amerika Latin...

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan terkait Kolombia dan Venezuela di atas pesawat Air Force One. (instagram.com/realdonaldtrump)

Dari Miami hingga Madrid, Warga Venezuela Rayakan Jatuhnya Maduro

BERIKABARNEWS l – Euforia menyelimuti komunitas Venezuela di...

Warga Venezuela di luar negeri merayakan jatuhnya Nicolas Maduro dengan mengibarkan bendera nasional. (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)

berita terkini