BERIKABARNEWS l – Kabar potensi perdamaian di Timur Tengah langsung mengguncang pasar keuangan global. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Rabu (4/3/2026), mundur dari level tertinggi beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya optimisme bahwa konflik kawasan tersebut bisa segera mereda.
Sentimen positif dipicu laporan The New York Times yang menyebut Kementerian Intelijen Iran memberi sinyal kepada Central Intelligence Agency (CIA) untuk membuka jalur pembicaraan guna mengakhiri perang. Informasi ini segera mengubah arah pergerakan pasar yang sebelumnya diliputi kekhawatiran eskalasi konflik.
Investor yang semula memburu dolar sebagai aset safe haven mulai beralih ke aset berisiko. Kepala Strategi Pasar Corpay, Karl Schamotta, menilai komunikasi jalur belakang antara intelijen AS dan Iran menjadi tanda meredanya risiko konflik yang lebih luas. Sikap Donald Trump yang disebut lebih lunak terhadap isu pergantian rezim juga dinilai membantu menenangkan pelaku pasar.
Tekanan terhadap dolar membuka ruang penguatan bagi mata uang utama dunia. Euro naik 0,1 persen ke level US$1,1623 setelah sebelumnya sempat tertekan ke posisi terendah sejak November. Selain faktor geopolitik, kenaikan euro juga ditopang data inflasi zona euro yang melampaui ekspektasi.
Indeks dolar (DXY) tercatat turun 0,1 persen ke 98,93, sementara yen Jepang menguat dengan dolar melemah 0,3 persen ke 157,25 yen per dolar.
Baca Juga : Iran Konfirmasi Khamenei Tewas Usai Serangan AS–Israel
Di sisi lain, data ekonomi AS yang sebenarnya cukup solid justru tenggelam oleh isu geopolitik. Data penggajian swasta menunjukkan tambahan 63.000 pekerjaan pada Februari, menjadi kenaikan terbesar dalam tujuh bulan terakhir.
Indeks sektor jasa ISM juga melonjak ke 56,1, tertinggi dalam tiga setengah tahun. Namun fokus investor tetap tertuju pada perkembangan Timur Tengah.
Meski kabar perdamaian memberi angin segar, pasar tetap mencermati risiko energi. Lonjakan harga gas alam di Eropa masih menjadi bayang-bayang bagi euro. Analis memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak dan gas berpotensi kembali menekan mata uang tersebut jika gangguan ekspor energi dari kawasan Teluk berlanjut.
Membaiknya selera risiko global turut mengangkat aset kripto. Bitcoin melonjak sekitar 6 persen ke level US$72.182, tertinggi dalam satu bulan terakhir. Poundsterling juga menguat tipis ke US$1,3363 meski masih dibayangi tekanan inflasi energi di Inggris.*
Sumber :
Reuters
