BERIKABARNEWS l – NASA kembali mencatat tonggak penting dalam eksplorasi luar angkasa. Empat astronot dalam misi Artemis 2 resmi meluncur menuju Bulan pada Kamis malam (2/4/2026) waktu setempat, menandai kembalinya manusia ke orbit Bulan setelah lebih dari 50 tahun.
Peluncuran ini mempertegas ambisi NASA dalam melanjutkan misi antariksa berawak. Melalui pembakaran mesin kapsul Orion selama enam menit, para astronot kini berada di jalur yang tepat untuk mengelilingi Bulan dalam misi berdurasi sekitar 10 hari.
NASA menyebut proses penyalaan mesin sebagai manuver yang “sempurna”. Dorongan besar dari Orion mampu membawa kapsul melaju dengan kecepatan tinggi hanya dalam hitungan detik.
Astronot asal Kanada, Jeremy Hansen, menyatakan keberhasilan ini menjadi bukti kemampuan manusia untuk kembali menjelajah ruang angkasa dalam skala besar.
Dari dalam kabin, para kru juga disuguhi pemandangan luar angkasa yang memukau. Christina Koch menggambarkan Bumi yang bersinar terang berdampingan dengan cahaya Bulan sebagai pengalaman yang luar biasa.
Di balik momen bersejarah ini, kehidupan di dalam kapsul tidak lepas dari tantangan. Kru yang terdiri dari Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen sempat menghadapi sejumlah kendala teknis.
Mulai dari gangguan komunikasi hingga sistem toilet yang sempat bermasalah, semua berhasil diatasi dengan cepat. Bahkan, Koch sempat berkelakar menyebut dirinya sebagai “tukang ledeng antariksa”.
Untuk menjaga kondisi tubuh, para astronot juga diwajibkan berolahraga minimal 30 menit setiap hari guna mempertahankan kekuatan otot dan tulang di lingkungan tanpa gravitasi.
Baca Juga : OpenAI Percepat Ekspansi, Siap Tambah Ribuan Pegawai
Misi Artemis 2 tidak hanya bersejarah dari sisi teknologi, tetapi juga inklusivitas. Ini menjadi misi pertama yang mengirimkan perempuan, orang kulit berwarna, serta astronot non-Amerika menuju orbit Bulan.
Saat ini, kapsul Orion berada di lintasan “free-return trajectory”, yakni jalur yang memanfaatkan gravitasi Bulan untuk mengelilingi sisi jauh sebelum kembali ke Bumi tanpa tambahan dorongan mesin.
Jika berjalan sesuai rencana, misi ini berpotensi mencetak rekor sebagai perjalanan manusia terjauh dari Bumi sepanjang sejarah.
Di tengah perjalanan, Victor Glover menyampaikan pesan penuh makna tentang kondisi Bumi. Dari jarak ratusan ribu mil, ia melihat umat manusia sebagai satu kesatuan tanpa perbedaan.
“Kalian terlihat luar biasa. Dari sini, kita semua terlihat sebagai satu,” ujarnya yang dikutip dari AFP.
Misi Artemis 2 menjadi fondasi bagi rencana jangka panjang NASA untuk membangun pangkalan permanen di Bulan pada 2028. Program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju misi manusia ke Mars.
Sumber :
AFP
