BERIKABARNEWS l JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi memangkas target produksi nikel Indonesia untuk tahun 2026. Produksi nikel nasional kini ditetapkan di kisaran 250–260 juta ton, turun signifikan dibandingkan target Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 yang mencapai 379 juta ton.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk menyesuaikan produksi tambang dengan kemampuan serap smelter dalam negeri sekaligus menjaga stabilitas harga nikel di pasar global.
Menurut Tri, pembatasan produksi mulai menunjukkan dampak positif. Harga nikel dunia tercatat mengalami penguatan seiring penyesuaian pasokan dari Indonesia sebagai produsen utama global.
“Saat ini harga nikel sudah berada di atas 17.000 dolar AS per dry metric ton (dmt). Ini meningkat dibandingkan rata-rata harga sepanjang 2025 yang berada di kisaran 14.000 dolar AS per dmt,” ujar Tri dalam keterangan resmi, Rabu (14/1/2026).
Tri menegaskan, pengendalian produksi menjadi instrumen penting agar harga nikel tetap kompetitif dan tidak tertekan oleh kelebihan pasokan di pasar internasional. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan memastikan kesinambungan industri nikel nasional dari hulu hingga hilir.
Dalam kesempatan yang sama, Tri turut menyampaikan perkembangan terbaru terkait RKAB 2026 PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Mengingat RKAB sebelumnya berakhir pada 2025, perusahaan saat ini tengah mengajukan dokumen baru khusus untuk tahun 2026.
“RKAB 2026 milik Vale dijadwalkan terbit pada Rabu malam ini. Karena merupakan pengajuan baru, maka RKAB tersebut hanya berlaku untuk satu tahun,” jelasnya. Tri menambahkan, PT Vale tidak mendapatkan relaksasi produksi sebesar 25 persen hingga Maret 2026 karena proses RKAB masih berjalan.
Baca Juga : Bansos & BLT Cair Januari 2026, Ini Daftar Bantuan dan Cara Cek Penerima
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya kolaborasi dalam ekosistem industri nikel nasional. Ia meminta agar industri besar tidak memonopoli pasokan dan tetap melibatkan pengusaha tambang lokal.
“Jangan ada monopoli. Investor harus kuat, tetapi pengusaha daerah juga harus kuat. Harus ada kolaborasi agar manfaat industri nikel bisa dirasakan secara merata,” tegas Bahlil.
Pemangkasan target produksi nikel ini diharapkan mampu menjaga posisi Indonesia sebagai pemain kunci di pasar nikel dunia, sekaligus memastikan keberlanjutan industri dan pemerataan manfaat ekonomi di dalam negeri. *
Sumber :
InfoPublik.id
