BERIKABARNEWS l – Eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina kembali menyasar infrastruktur energi strategis. Sumber dari badan keamanan Ukraina, Security Service of Ukraine, menyebutkan bahwa drone Ukraina menyerang stasiun pompa minyak yang melayani jalur Druzhba pipeline pada Senin (23/2/2026) malam.
Serangan tersebut memicu kebakaran di stasiun Kaleykino, dekat kota Almetyevsk, wilayah Tatarstan, Rusia. Lokasinya berjarak lebih dari 1.200 kilometer dari perbatasan Rusia-Ukraina, menjadikannya salah satu titik terdalam yang terdampak sejak konflik berlangsung.
Administrasi setempat mengonfirmasi melalui Telegram bahwa sistem pertahanan udara Rusia menjatuhkan sejumlah drone di distrik tersebut. Namun, puing-puing yang jatuh memicu kebakaran di kawasan industri. Otoritas belum merinci dampak langsung terhadap operasional jalur pipa Druzhba maupun aliran minyak mentah secara keseluruhan.
Serangan ini berpotensi memperkeruh hubungan Ukraina dengan negara-negara Eropa Tengah, khususnya Hungary dan Slovakia. Kedua negara sebelumnya menuduh Kyiv mengganggu aliran minyak Rusia menuju kilang mereka. Pengiriman minyak ke dua negara tersebut dilaporkan telah terhenti sejak akhir Januari, dengan alasan kerusakan infrastruktur akibat serangan di wilayah Ukraina.
Ketegangan meningkat karena Hungaria dan Slovakia disebut memasok sekitar 70 persen impor listrik Ukraina. Di sisi lain, setengah kapasitas pembangkit listrik Ukraina dilaporkan rusak akibat serangan Rusia.
Baca Juga : Iran Ancam Balas Serangan AS, Diplomasi Geneva Masih Dibuka
Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, menyebut gangguan pada jalur Druzhba sebagai tindakan permusuhan yang merugikan keamanan energi negaranya.
Budapest bahkan memblokir sanksi tambahan Uni Eropa terhadap Moskow serta menunda persetujuan bantuan finansial untuk Kyiv.
Meski Ukraina masih melanjutkan transit minyak Rusia melalui wilayahnya, mereka telah menghentikan transit gas sejak tahun lalu.
Serangan terbaru di Tatarstan ini dinilai sebagai upaya Kyiv menekan sumber pendapatan energi Rusia, meski berisiko memicu ketegangan baru dengan mitra energinya di Eropa.*
Sumber :
Reuters
