BERIKABARNEWS l DAMASKUS – Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Suriah pada Sabtu (22/8/2026). Di tengah serangan tersebut, pemerintah Israel terlibat perselisihan dengan Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Suriah, Tom Barrack, yang sebelumnya mengkritik serangan Israel terhadap pangkalan udara Suriah.
Barrack menilai serangan Israel pada Selasa sebelumnya sebagai eskalasi yang tidak perlu dan berpotensi mengancam stabilitas kawasan. Dalam wawancara pada Jumat, ia mengatakan serangan terhadap pangkalan udara yang tidak aktif itu berisiko memicu konflik dengan Turki.
Barrack juga menyebut Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah pendudukan. Pernyataan tersebut langsung mendapat bantahan dari Menteri Pertahanan Israel Israel Katz.
Melalui platform X pada Sabtu, Katz menyebut pernyataan Barrack keliru dan bertentangan dengan posisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan.
Katz juga mengatakan Israel telah memberikan informasi intelijen kepada pemerintah Amerika Serikat sebelum serangan dilakukan.
Baca Juga : Latihan Militer AS-Korsel Dipangkas, Korut Tetap Sebut Provokatif
Ketegangan Israel dan Suriah kembali meningkat setelah sebuah drone Israel menyerang kendaraan di Desa Beit Jinn, dekat Dataran Tinggi Golan, Sabtu (22/8/2026).
Televisi resmi Suriah melaporkan serangan tersebut melukai satu orang. Kementerian Luar Negeri Suriah mengecam aksi itu sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya.
Militer Israel membenarkan serangan tersebut. Israel menyatakan targetnya merupakan seseorang yang sedang mempersiapkan aksi teror di wilayah Suriah selatan.
Ketegangan juga dipicu tuduhan Israel terhadap Turki. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding Ankara berupaya membangun kekuatan militer di pangkalan udara Suriah yang sebelumnya diserang Israel.
Pemerintah Turki membantah tuduhan tersebut.
Baca Juga : Klaim Israel Dipertanyakan, Penembakan 15 Petugas Medis di Rafah Diselidiki
Perselisihan antara Israel dan Turki turut melibatkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Pemerintah Turki bahkan mengajukan red notice Interpol terhadap Netanyahu terkait tuduhan kejahatan dalam penyergapan armada kapal bantuan menuju Gaza.
Israel kemudian membalas dengan menyebut Erdogan sebagai “diktator antisemit”. Pemerintah Turki menanggapi pernyataan tersebut sebagai “celotehan tak berdasar” yang dinilai bertujuan menghindari tanggung jawab.
Sejak pemerintahan Bashar al-Assad jatuh pada Desember 2024, Israel disebut telah melancarkan ratusan serangan udara di Suriah. Israel juga menempatkan pasukan di zona penyangga PBB di Dataran Tinggi Golan, wilayah yang dikuasai Israel sejak Perang 1967.
Panglima Angkatan Bersenjata Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir menegaskan militer Israel akan terus memantau perkembangan di Suriah.
Israel, kata Zamir, tidak akan membiarkan kekuatan yang dianggap bermusuhan membangun basis di sepanjang garis perbatasannya.*
