BERIKABARNEWS l RIYADH – Kelompok Houthi di Yaman mengklaim melancarkan enam operasi militer terhadap sejumlah lokasi strategis di Arab Saudi dalam 48 jam terakhir hingga 19 Oktober waktu setempat. Sasaran yang disebut mencakup fasilitas minyak Aramco, bandara internasional, pangkalan udara, dan instalasi radar militer.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyampaikan klaim tersebut melalui media sosial X. Menurutnya, serangan dilakukan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat tanpa awak (drone).
Dikutip dari Reuters, Houthi menyatakan operasi tersebut menyasar sejumlah fasilitas penting di wilayah Arab Saudi. Namun, klaim mengenai dampak serangan itu belum dikonfirmasi secara independen.
Baca Juga : Kerusuhan di Prancis, 1.200 Demonstran Ditangkap
Saree mengklaim fasilitas Aramco di Yanbu diserang dalam dua tahap hingga memicu kebakaran besar. Ladang minyak Shaybah di Gurun Rub’ al Khali juga disebut terkena serangan dan mengalami kebakaran.
Selain fasilitas energi, Houthi mengaku menargetkan sejumlah objek strategis, antara lain Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Bandara Internasional Abha di Provinsi Asir, serta Pangkalan Udara Khamis Mushait di wilayah barat daya Arab Saudi.
Kelompok tersebut juga mengklaim menyerang fasilitas radar militer di Gunung Al-Hisn dan Gunung Al-Rahma.
Menurut Saree, serangan tersebut mengenai sejumlah sasaran dan menyebabkan gangguan operasional penerbangan serta kerusakan pada pangkalan udara. Meski demikian, dampak serangan tersebut belum dapat dipastikan secara independen.
Baca Juga : Drone Ukraina Serang Pusat Data Terbesar Rusia, AI Terancam
Houthi juga menyatakan serangan mereka menghantam pangkalan satuan tugas angkatan laut Arab Saudi hingga menimbulkan korban jiwa. Selain itu, kelompok tersebut mengklaim menghancurkan fasilitas radar di Bir-Askar.
Hingga laporan ini disusun, pemerintah Arab Saudi belum memberikan komentar resmi mengenai klaim serangan tersebut.
Di tengah eskalasi konflik, Saree turut memperingatkan warga Yaman agar tidak bergabung dengan koalisi yang dipimpin Arab Saudi. Ia menuduh pihak Saudi menggunakan iming-iming uang untuk merekrut warga Yaman dan meminta masyarakat menolak tawaran tersebut.
Klaim serangan dan dampaknya masih memerlukan verifikasi dari sumber independen.*
