BERIKABARNEWS l KUBU RAYA – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kalimantan Barat mulai menerapkan sistem pemantauan digital Spatial Monitoring and Reporting Tool–Smart Forestry (SMART SF) untuk memperkuat pengawasan dan perlindungan kawasan hutan di Kalbar.
Penerapan sistem tersebut diperkenalkan dalam kegiatan yang berlangsung di Hotel Alimoer, Kabupaten Kubu Raya, Senin (20/7/2026), dan diikuti seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se-Kalimantan Barat, termasuk UPT KPH Wilayah Sintang Timur.
Kepala DLHK Kalbar, Ir. H. Adi Yani, M.H., mengatakan SMART SF akan menjadi sistem utama dalam mendukung pengawasan hutan di lapangan. Melalui aplikasi ini, petugas KPH dapat memetakan lokasi rawan, mencatat temuan secara real-time, serta mempercepat respons terhadap berbagai ancaman di kawasan hutan.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital akan membuat proses pengawasan menjadi lebih efektif sekaligus meningkatkan akurasi data yang dihimpun dari lapangan.
Baca Juga : Pengembangan Agribisnis Ayam Petelur di Ketapang Perkuat Kemandirian Ekonomi Desa
Hal senada disampaikan Kepala Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Wilayah Kalimantan, E. Nopriadi, S.Hut., M.T. Ia menilai integrasi data berbasis digital akan mempercepat proses evaluasi sekaligus menghasilkan informasi yang lebih akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Melalui implementasi SMART SF, seluruh UPT KPH di Kalimantan Barat diarahkan untuk memperkuat tiga fokus utama, yakni perlindungan kawasan hutan, penyediaan bibit berkualitas untuk rehabilitasi lahan, serta pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan secara berkelanjutan.
Perlindungan kawasan mencakup upaya menjaga ekosistem lahan gambut, wilayah pesisir, hingga percepatan rehabilitasi hutan mangrove.
Baca Juga : Warga Jagoi Babang Serahkan Sisik Trenggiling Dilindungi
Selain mendukung konservasi, sistem digital ini juga diharapkan mampu memperkuat program peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Salah satu potensi yang terus dikembangkan adalah budidaya durian lokal unggulan di Kabupaten Kubu Raya. Dari 38 varietas durian yang telah terdaftar di Indonesia, sebanyak 16 varietas berasal dari Kalimantan Barat.
Potensi tersebut diharapkan dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian hutan.*
