BERIKABARNEWS l – Ketegangan di kawasan Teluk mulai mereda setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani Islamabad Understanding pekan lalu. Kesepakatan tersebut menandai berakhirnya konflik bersenjata yang berlangsung sejak Februari 2026.
Meski demikian, meredanya konflik belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran dunia. Perhatian kini beralih pada stabilitas Selat Hormuz, jalur perdagangan energi paling vital di dunia yang masih menyimpan potensi gejolak besar bagi perekonomian global.
Di tengah narasi perdamaian yang disampaikan para diplomat, ancaman gangguan terhadap jalur distribusi minyak dan gas tetap menjadi sorotan utama. Selat Hormuz selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi internasional, sehingga setiap ketidakpastian di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia.
Pemimpin Iran bahkan menyebut kesepakatan terbaru sebagai “deklarasi kekalahan Amerika”. Namun, di balik retorika politik itu, stabilitas ekonomi global dinilai masih berada dalam situasi rapuh.
Baca Juga : Gencatan Senjata Gagal Bertahan, Serangan Israel ke Lebanon Tewaskan 16 Orang
Salah satu isu paling krusial dalam proses negosiasi adalah rencana Iran yang sebelumnya ingin memberlakukan “biaya layanan maritim” bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Walau tidak secara langsung disebut sebagai tarif tol, kebijakan ini sempat memicu kepanikan di pasar energi.
Para pelaku industri khawatir kebijakan tersebut akan meningkatkan biaya pengiriman minyak dan gas, terutama melalui kenaikan premi asuransi kapal.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya meredam kekhawatiran pasar. Melalui platform Truth Social, Trump mengklaim Iran telah memberikan jaminan tertulis terkait kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut Trump, Iran memastikan tidak akan mengenakan biaya tol, biaya asuransi tambahan, maupun pungutan lain terhadap kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Meski pernyataan itu memberi sedikit ketenangan, pasar masih menunggu kepastian jangka panjang. Hingga kini belum ada jaminan apakah komitmen tersebut akan tetap berlaku setelah masa negosiasi 60 hari menuju kesepakatan permanen berakhir.
Di sisi lain, upaya diplomatik terus berlangsung. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio saat ini melakukan kunjungan ke sejumlah negara Teluk untuk meyakinkan para sekutu Washington.
Negara-negara Teluk memiliki alasan kuat untuk tetap waspada. Selama konflik berlangsung, kawasan tersebut sempat menjadi target serangan ribuan rudal dan pesawat nirawak Iran.
Mereka juga menuntut transparansi lebih jauh mengenai isi nota kesepahaman yang telah disepakati. Pasalnya, dokumen tersebut dinilai belum menyentuh isu mendasar seperti program rudal balistik Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok milisi proksi di kawasan.
Baca Juga : ASEAN United: Target Ambisius Nol Kematian Akibat Dengue
Sejumlah diplomat menyebut pembicaraan lanjutan antara Iran dan negara-negara Teluk kemungkinan akan digelar di Saudi Arabia. Namun hingga kini belum ada jadwal resmi yang diumumkan.
Sementara itu, komunitas internasional masih menunggu apakah perdamaian ini benar-benar mampu menciptakan stabilitas jangka panjang. Gangguan terhadap Selat Hormuz bukan hanya persoalan geopolitik, tetapi juga ancaman langsung terhadap inflasi global dan rantai pasok energi dunia.
Iran sendiri tetap menunjukkan sikap tegas. Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan masa depan kawasan akan lebih baik jika negara-negara Arab memilih hidup berdampingan dengan Iran ketimbang terus berada di bawah pengaruh Barat.
Menurutnya, masa depan kawasan seharusnya dibangun melalui interaksi dan koeksistensi, bukan konfrontasi.
Kini, pertanyaan besar masih menggantung. Apakah kesepakatan ini akan menjadi awal stabilitas baru bagi perdagangan energi global, atau sekadar jeda singkat sebelum ketegangan kembali memanas? Jawabannya akan sangat bergantung pada implementasi teknis di lapangan dan komitmen politik kedua pihak.*
Sumber :
AFP
