BERIKABARNEWS l – Negara-negara di kawasan Asia Tenggara kembali memperingati ASEAN Dengue Day setiap 15 Juni sebagai momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam memerangi demam berdarah dengue (DBD). Tahun 2026 ini, peringatan tersebut mengusung tema “ASEAN United: Zero Dengue Deaths – A Future We Build Together by 2030”.
Tema tersebut menjadi simbol tekad kuat negara-negara ASEAN untuk menekan angka kematian akibat dengue hingga nol pada tahun 2030 melalui kolaborasi lintas sektor serta penguatan sistem kesehatan di seluruh kawasan.
Dengue masih menjadi salah satu penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui nyamuk dan masih menjadi ancaman kesehatan global. Data menunjukkan terdapat sekitar 390 juta kasus infeksi dengue setiap tahunnya di seluruh dunia.
Dalam dua dekade terakhir, angka kejadian penyakit ini terus meningkat dan menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan masyarakat.
Berdasarkan laporan Januari 2026, lebih dari 100.000 kasus dengue tercatat di 39 negara dan wilayah, dengan sejumlah kasus berujung kematian.
ASEAN Health Cluster 2 menjelaskan bahwa peningkatan kasus dengue dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama.
Perubahan iklim menjadi salah satu faktor dominan, di mana kenaikan suhu, curah hujan tinggi, dan kelembapan yang meningkat memperluas habitat nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Selain itu, faktor lingkungan seperti mobilitas penduduk yang tinggi serta kondisi sosial ekonomi di beberapa wilayah turut mempercepat penyebaran virus dengue.
Di sisi lain, kapasitas sistem kesehatan yang belum merata, termasuk keterbatasan surveilans vektor, fasilitas laboratorium, serta diagnosis dini, masih menjadi tantangan di berbagai negara anggota ASEAN.
Baca Juga : Rekor! 104 Ribu Pasien dari Luar Negeri Berobat ke RS Sarawak
Untuk menjawab tantangan tersebut, ASEAN mendorong penerapan strategi terpadu yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil.
Pendekatan ini mencakup penguatan surveilans penyakit secara real-time, manajemen vektor terpadu, serta respons cepat terhadap kemunculan kasus di suatu wilayah.
ASEAN juga menekankan pentingnya peningkatan layanan diagnosis dan perawatan klinis agar pasien dengue dapat ditangani lebih cepat dan mencegah komplikasi berat seperti syok dengue maupun perdarahan serius.
Selain itu, pemanfaatan inovasi teknologi menjadi salah satu fokus utama dalam pengendalian dengue, termasuk pengembangan sistem pemantauan yang lebih akurat dan responsif.
Di sisi lain, komunikasi risiko kepada masyarakat, terutama kelompok rentan, juga terus diperkuat untuk meningkatkan kesadaran pencegahan.
Baca Juga : Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Ebola, Faskes Diminta Perkuat Kesiapsiagaan
ASEAN menegaskan bahwa upaya pengendalian dengue tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Keterlibatan komunitas di tingkat lokal dinilai menjadi kunci dalam memutus rantai penyebaran penyakit ini.
Peringatan ASEAN Dengue Day 2026 diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di kawasan. Dengan kerja sama yang konsisten dan berkelanjutan, ASEAN optimistis target Zero Dengue Deaths pada 2030 dapat tercapai.
“ASEAN menegaskan kembali komitmennya untuk memajukan upaya kolektif demi mencapai nol kematian akibat dengue dan mempromosikan masa depan yang lebih sehat bagi seluruh masyarakat di kawasan,” demikian pernyataan resmi tersebut.
Melalui kolaborasi dan kesadaran bersama, ASEAN berharap visi kawasan bebas kematian akibat dengue dapat benar-benar terwujud pada masa mendatang.*
