BERIKABARNEWS l JAKARTA – Pemerintah mengklaim kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap sehat di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. Hingga akhir Triwulan I 2026, kinerja fiskal nasional disebut mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menopang pertumbuhan nasional.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan APBN terus menjadi instrumen penting dalam menjaga daya tahan masyarakat serta memastikan program pembangunan berjalan sesuai target.
Hingga 31 Maret 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun atau sekitar 18,2 persen dari target tahunan. Angka tersebut tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penerimaan perpajakan menjadi penyumbang terbesar dalam pendapatan negara. Pemerintah mencatat realisasi penerimaan pajak mencapai Rp394,8 triliun atau meningkat 20,7 persen secara tahunan.
Baca Juga : Tekanan Dolar AS Meningkat, BI Perketat Pembelian Valas di Dalam Negeri
Menurut Purbaya, kenaikan penerimaan pajak didorong oleh membaiknya aktivitas dunia usaha, harga komoditas global yang masih mendukung, meningkatnya kepatuhan wajib pajak, serta penguatan transformasi digital dalam administrasi perpajakan.
Di sisi lain, realisasi belanja negara hingga Maret 2026 mencapai Rp815 triliun atau tumbuh 31,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah menyebut percepatan belanja dilakukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sejak awal tahun.
“Percepatan belanja ini menunjukkan APBN bergerak cepat sejak awal tahun untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Purbaya dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026).
Salah satu program yang mendapat perhatian adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga Triwulan I 2026, realisasi anggaran program tersebut mencapai Rp55,3 triliun dan telah menjangkau sekitar 61,8 juta penerima di berbagai daerah.
Kinerja APBN yang tetap kuat disebut berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026.
Selain itu, tingkat inflasi juga dinilai terkendali. Inflasi berada di level 3,48 persen pada kuartal pertama dan kembali turun menjadi 2,42 persen pada April 2026.
Meski belanja negara meningkat cukup tinggi, pemerintah memastikan defisit APBN masih berada dalam batas aman.
Hingga akhir Maret 2026, defisit anggaran tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Baca Juga : Menkeu Purbaya: Tak Ada Kenaikan Pajak hingga Ekonomi Tumbuh 6 Persen
Di tengah kondisi geopolitik global yang masih memengaruhi pasar energi dan keuangan dunia, pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia juga dinilai tetap stabil.
Sepanjang April 2026, pasar SBN mencatat aliran modal masuk atau net inflow sebesar Rp13,4 triliun.
“Kondisi ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi kita,” kata Purbaya.
Pemerintah optimistis sinergi antara kebijakan fiskal Kementerian Keuangan, kebijakan moneter Bank Indonesia, dan pengawasan sektor jasa keuangan oleh OJK akan menjaga APBN 2026 tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.*
Sumber :
InfoPublik.id
