BERIKABARNEWS l JAKARTA – Otoritas kesehatan Indonesia bergerak cepat mengantisipasi potensi masuknya virus Nipah (NiV) yang tengah mewabah di India. Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta meningkatkan pengawasan terhadap pelancong internasional, khususnya penumpang yang datang dari wilayah berisiko tinggi.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah masuknya virus dengan tingkat kematian tinggi, yang dalam sejumlah wabah tercatat mencapai lebih dari 40 persen. Pengawasan diperketat sejak kedatangan pesawat hingga proses pemeriksaan di terminal.
Kepala BBKK Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengaktifkan sistem profiling kesehatan penumpang secara menyeluruh. Fokus pengawasan diarahkan pada penerbangan langsung maupun transit dari negara yang melaporkan kasus virus Nipah.
Menurut Naning, petugas menganalisis deklarasi kesehatan penumpang dalam kurun 21 hari sebelum kedatangan untuk mengidentifikasi potensi risiko. Proses skrining didukung teknologi pemindai suhu tubuh, observasi visual oleh tenaga medis, serta pemeriksaan langsung di dalam pesawat apabila ditemukan penumpang dengan gejala mencurigakan seperti demam tinggi, gangguan kesadaran, atau sesak napas.
Sejalan dengan langkah tersebut, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa hingga saat ini virus Nipah belum ditemukan masuk ke Indonesia. Ia meminta masyarakat tetap waspada namun tidak panik menghadapi perkembangan situasi.
Benjamin menjelaskan bahwa virus Nipah telah dikenal sejak 1998 dan jumlah kasus secara global masih relatif terbatas. Pemerintah India, ungkapnya, juga telah melakukan pembatasan wilayah di area temuan kasus, sehingga risiko penyebaran lintas negara dapat ditekan.
Kewaspadaan Terhadap Penularan Zoonosis
Selain pengawasan terhadap manusia, BBKK turut berkoordinasi dengan otoritas karantina hewan. Hal ini mengingat virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui kelelawar buah sebagai inang alami, serta hewan ternak seperti babi yang terinfeksi.
Hingga Januari 2026, status virus Nipah di Indonesia masih dinyatakan nihil. Gejala utama infeksi meliputi demam, gangguan pernapasan, hingga peradangan otak atau ensefalitis yang berisiko fatal jika tidak ditangani dengan cepat.
Baca Juga : Bandara Asia Siaga Tinggi, Waspada Penyebaran Virus Nipah
Pemerintah menyatakan pengawasan di bandara telah berjalan otomatis melalui sistem deteksi suhu. Namun, penerapan skrining ketat seperti masa pandemi COVID-19 masih dalam tahap pertimbangan karena jumlah kasus yang masih terbatas dan terlokalisir.
Masyarakat yang baru kembali dari perjalanan luar negeri diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan kesehatan dalam 21 hari setelah kepulangan, sebagai langkah deteksi dini dan pencegahan penyebaran penyakit. *
