BERIKABARNEWS l – Pemerintah Indonesia mengecam keras serangan di Lebanon selatan yang menewaskan tiga prajurit TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Insiden yang terjadi pada 29–30 Maret 2026 itu mendorong Indonesia untuk mendesak investigasi segera di tingkat internasional.
Melalui Perwakilan Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, Indonesia secara tegas meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan penyelidikan yang menyeluruh, cepat, dan transparan. Permintaan tersebut disampaikan dalam sidang Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat.
Peristiwa ini menjadi duka mendalam bagi Indonesia. Tiga prajurit terbaik yang gugur adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Prajurit Kepala Fahrizal Rhomadhon. Mereka meninggal dunia saat menjalankan mandat menjaga perdamaian di wilayah konflik.
Laporan yang diterima menyebutkan, Praka Fahrizal gugur setelah pos UNIFIL di wilayah Adchit Al Qusayr diserang. Sementara Kapten Zulmi dan Sertu Muhammad tewas dalam serangan terhadap konvoi logistik di kawasan Bani Hayyan. Selain korban jiwa, lima prajurit lainnya mengalami luka-luka dan kini menjalani perawatan medis.
Di hadapan forum internasional, Umar Hadi menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak bisa dibiarkan tanpa konsekuensi. Ia menekankan bahwa para prajurit tersebut gugur saat menjalankan mandat resmi PBB, sehingga tidak boleh ada impunitas bagi pihak yang bertanggung jawab. Indonesia juga mendesak semua pihak, termasuk Israel, untuk menghentikan agresi dan mematuhi hukum internasional.
Baca Juga : Mulai 1 April 2026 Pembelian BBM Dibatasi 50 Liter/Hari
Selain mendorong proses hukum, Indonesia turut menyoroti pentingnya perlindungan maksimal bagi personel di lapangan. Pemerintah meminta adanya evaluasi terhadap protokol keamanan serta kesiapan rencana evakuasi yang lebih adaptif, mengingat situasi konflik yang semakin memanas.
Pemulangan jenazah ketiga prajurit juga menjadi perhatian utama agar dilakukan secara cepat dan penuh penghormatan. Sementara itu, prajurit yang terluka, termasuk Kapten Sultan Wirdean Maulana, dipastikan mendapatkan penanganan medis terbaik.
Langkah diplomatik ini juga menunjukkan komitmen jangka panjang Indonesia dalam misi perdamaian dunia. Bersama Prancis, Indonesia menginisiasi pertemuan Dewan Keamanan sebagai upaya mendorong perlindungan lebih kuat bagi pasukan penjaga perdamaian.
Sejak 1957, Indonesia telah konsisten berkontribusi dalam berbagai misi PBB. Melalui sinergi internasional, Indonesia berharap keselamatan personel dan perlindungan aset PBB dapat terus menjadi prioritas utama demi menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan Timur Tengah.*
Sumber :
InfoPublik.id
