BERIKABARNEWS l – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah mengklaim pertahanan Iran telah melemah akibat serangkaian serangan militer terbaru. Trump juga menyatakan Amerika Serikat siap mengambil alih Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama milik Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui media sosial dan wawancara media pada Kamis (11/6/2026) di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir.
Dalam pernyataannya, Donald Trump mengklaim sebagian besar kemampuan militer Iran telah berhasil dilumpuhkan oleh operasi militer Amerika Serikat dan sekutunya.
Ia menyebut sistem radar, pertahanan udara, hingga kemampuan ofensif Iran berada dalam kondisi lemah setelah gelombang serangan terbaru.
“Amerika Serikat akan menghantam Iran malam ini dengan sangat keras,” tulis Trump dalam unggahannya.
Baca Juga : Hizbullah Tolak Gencatan Senjata AS, Konflik Lebanon dan Israel Kian Memanas
Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki rencana untuk menguasai sejumlah titik strategis energi Iran, termasuk Pulau Kharg yang selama ini menjadi pusat ekspor minyak negara tersebut.
Pulau Kharg memiliki peran penting dalam perekonomian Iran karena menjadi jalur utama ekspor minyak mentah negara itu.
Sekitar 90 persen ekspor minyak Iran diketahui melewati fasilitas di Pulau Kharg dengan kapasitas mencapai jutaan barel per hari. Sebagian besar pasokan tersebut dikirim ke pasar Asia, termasuk China.
Ancaman pengambilalihan Pulau Kharg langsung memicu kekhawatiran pasar internasional. Harga minyak dunia dilaporkan mengalami kenaikan setelah pernyataan Trump dipublikasikan.
Para analis menilai langkah tersebut berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah sekaligus mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Baca Juga : Timur Tengah Memanas, Rudal Iran ke Bahrain dan Kuwait Dicegat AS
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah aksi saling serang terjadi di kawasan Teluk dalam beberapa hari terakhir.
Laporan Reuters menyebut konflik terbaru dipicu setelah helikopter Apache milik AS ditembak jatuh di dekat Selat Hormuz. Amerika Serikat kemudian melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas pertahanan Iran.
Iran dilaporkan membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Situasi itu membuat gencatan senjata yang sebelumnya disepakati pada April lalu kembali berada di ujung kegagalan.
Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait ancaman terbaru Donald Trump mengenai rencana pengambilalihan Pulau Kharg. Namun, konflik yang terus memanas menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi dunia.*
