BERIKABARNEWS l KUCHING – Sebanyak 63 sekolah di wilayah Bintulu dan Tatau/Sebauh, Sarawak, Malaysia, ditutup sementara akibat kabut asap yang memperburuk kualitas udara.
Penutupan sekolah berlangsung selama lima hari, mulai Senin hingga 11 September 2026. Kebijakan tersebut berdampak pada 39.744 siswa setelah Indeks Pencemaran Udara (IPU) mencapai kategori sangat tidak sehat.
Jabatan Pendidikan Negeri (JPN) Sarawak menyatakan keputusan penutupan diambil berdasarkan pemantauan data IPU secara berkala hingga pukul 20.00 waktu setempat. Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi kesehatan siswa dan tenaga pengajar.
Dari 63 sekolah yang ditutup, sebanyak 54 merupakan sekolah dasar dengan jumlah 22.476 murid. Sementara sembilan lainnya merupakan sekolah menengah dengan total 17.268 siswa.
Baca Juga : Sarawak Gelar Pembenihan Awan Dekat Perbatasan Malaysia-Indonesia
Selama sekolah ditutup, kegiatan belajar mengajar tatap muka dialihkan ke pembelajaran daring melalui skema Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPR).
Pelaksanaan pembelajaran daring tersebut mengikuti panduan penanganan bencana yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Malaysia (KPM).
Secara keseluruhan, kabut asap telah berdampak pada 710 sekolah di Sarawak yang berada di bawah pengawasan 14 Pejabat Pendidikan Daerah (PPD).
Jumlah itu terdiri dari 617 sekolah dasar dengan 130.953 murid dan 93 sekolah menengah dengan 107.350 siswa.
Baca Juga : IPU Serian Tembus 518, Kabut Asap Sarawak Sangat Berbahaya
JPN Sarawak menginstruksikan seluruh sekolah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan selama kualitas udara memburuk.
Seluruh aktivitas di luar ruangan diminta dihentikan selama cuaca panas dan paparan kabut asap masih berlangsung.
Sekolah juga diwajibkan memantau perkembangan IPU secara berkala melalui Malaysian Air Pollutant Index Management System (APIMS).
Selain itu, pihak sekolah diminta mengikuti arahan medis dari Kementerian Kesehatan Malaysia untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan bagi siswa dan tenaga pengajar.
Penutupan sementara tersebut menjadi langkah pencegahan untuk melindungi warga sekolah di tengah kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak yang berada pada tingkat membahayakan kesehatan.*
