BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Suasana hangat dan penuh keakraban terasa di Warkop Asiang pada Jumat pagi (1/5/2026). Ketua Umum DPP Partai Hanura, Oesman Sapta Odang, mengajak sejumlah tokoh nasional untuk ngopi santai menjelang pembukaan Bimbingan Teknis Nasional (Bimteknas) Anggota DPRD se-Indonesia Partai Hanura.
Dalam suasana khas warung kopi legendaris Pontianak, OSO—sapaan akrabnya—terlihat duduk satu meja bersama tokoh-tokoh dari latar belakang berbeda. Obrolan ringan mengalir di tengah aroma kopi pagi, menciptakan suasana santai sekaligus mencairkan dinamika politik yang kerap terasa formal.
Momen ini menjadi perhatian karena mempertemukan sejumlah figur dengan pandangan yang kerap berbeda. Di antaranya Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, serta pengamat politik Rocky Gerung.

Baca Juga : Bimteknas Hanura Dongkrak Ekonomi Pontianak, Sektor Hotel hingga UMKM Bergeliat
Turut hadir pula Patrice Rio Capella dan Daud Yordan, bersama sejumlah tokoh daerah serta pengurus Partai Hanura lainnya. Kehadiran mereka semakin menegaskan nuansa lintas latar belakang dalam pertemuan santai tersebut.
Pemilihan Warkop Asiang sebagai lokasi pertemuan dinilai tepat. Selain dikenal sebagai ikon kuliner legendaris, tempat ini juga menjadi ruang berkumpul berbagai kalangan masyarakat di Kalimantan Barat, dari warga biasa hingga tokoh nasional.
Baca Juga : Bimteknas Hanura Jadi Momentum Konsolidasi dan Penguatan Legislator Daerah
Bagi OSO, momen ini bukan sekadar ngopi santai. Pertemuan tersebut menjadi cara membangun komunikasi informal sekaligus memperkenalkan kearifan lokal kepada para tokoh nasional sebelum memasuki agenda resmi.
Suasana hangat itu juga menjadi ajang silaturahmi dan diskusi ringan berbagai isu, sekaligus memberi energi positif menjelang pelaksanaan Bimteknas Hanura 2026 yang akan diikuti ratusan legislator dari seluruh Indonesia.
Baca Juga : Jelang May Day, Gubernur Ria Norsan Dorong Kesejahteraan Buruh Kalbar
Pertemuan di meja kopi ini menjadi bagian dari konsolidasi awal sebelum rangkaian kegiatan resmi dimulai. Gaya kepemimpinan OSO yang inklusif terlihat dari kemampuannya merangkul berbagai kalangan dalam suasana santai namun tetap bermakna.
Kebersamaan lintas tokoh ini sekaligus menunjukkan bahwa perbedaan pandangan bukanlah penghalang untuk membangun komunikasi dan menjaga persatuan. (ndo)
