BERIKABARNEWS l KUBU RAYA — Penerbangan di Bandara Internasional Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, kembali terganggu akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Jarak pandang (visibility) sempat turun hingga 200 meter sehingga aktivitas lepas landas dan pendaratan pesawat harus disesuaikan demi keselamatan penerbangan.
Pjs General Manager sekaligus Manajer Operasi Bandara Internasional Supadio, Mohamad Arifin, mengatakan jarak pandang dalam sepekan terakhir mengalami fluktuasi dan beberapa kali berada di bawah standar aman operasional.
Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Supadio, jarak pandang pada pagi dan sore hari kerap di bawah 1.000 meter. Kondisi membaik hingga lebih dari 2.000 meter pada siang hari. Dampaknya, 10 penerbangan kedatangan dan keberangkatan mengalami penyesuaian jadwal pada Senin (31/8/2026).
Baca Juga : Gubernur Ria Norsan Turun ke Lapangan Tinjau Karhutla
Pada Rabu (2/9/2026), jarak pandang memburuk hingga 200 meter. Pesawat Garuda Indonesia GA500 rute Jakarta-Pontianak tidak dapat mendarat dan melakukan Return to Base (RTB) ke Bandara Soekarno-Hatta.
Corporate Communications Division Head PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Dicky Irchamsyah, membenarkan penyesuaian operasional tersebut.
“Penerbangan GA500 Jakarta–Pontianak pada Rabu (2/9) melakukan penyesuaian operasional sehubungan dengan kondisi cuaca dan jarak pandang di Bandara Supadio yang berada di bawah batas minimum operasional. Penerbangan selanjutnya kembali mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada 10.13 WIB,” terang Dicky.
Setelah kondisi membaik, GA500 kembali terbang dari Jakarta pukul 12.51 WIB dan mendarat dengan selamat di Pontianak pukul 14.25 WIB.
Baca Juga : Asap Karhutla Kepung Habitat, Orangutan Ditemukan Lemas di Kebun Sawit Ketapang
Gangguan akibat kabut asap juga membuat sejumlah penumpang menumpuk di ruang tunggu Bandara Supadio. Sebagian memilih meninggalkan bandara karena belum mendapat kepastian waktu keberangkatan.
Otoritas Bandara Supadio menyatakan operasional penerbangan akan kembali normal setelah jarak pandang stabil dan memenuhi batas aman keselamatan penerbangan.*
