BERIKABARNEWS l JAKARTA – Otoritas Arab Saudi resmi menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan tersebut diambil setelah Mahkamah Agung Arab Saudi menetapkan Kamis sebagai hari terakhir Ramadan tahun ini.
Penetapan ini juga diikuti sejumlah negara di kawasan Teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain yang turut merayakan Idulfitri pada tanggal yang sama.
Di Indonesia, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan bahwa keputusan tersebut menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
“Metode hisab KHGT ini menjadi langkah Muhammadiyah untuk memberikan kepastian dan keseragaman perhitungan kalender Hijriah di seluruh dunia,” ujarnya.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia masih menunggu hasil Sidang Isbat yang dijadwalkan pada Kamis (19/3/2026) malam untuk menetapkan awal Syawal secara resmi.
Baca Juga : Catat! 8 Lokasi Meriam Karbit di Jalan Tanjungpura dan Imam Bonjol
Di sisi lain, hasil pengamatan astronomi dari Observatorium Bosscha menunjukkan bahwa posisi hilal di Indonesia berpotensi sulit diamati.
Peneliti Bosscha, Yatny Yulianty, menyebutkan ketinggian hilal berada pada kisaran 0 hingga 3 derajat di atas ufuk di wilayah Indonesia bagian barat.
“Secara astronomis, kondisi ini menunjukkan hilal berada pada batas yang menantang untuk diamati. Keberhasilan pengamatan akan sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan transparansi langit,” jelasnya.
Untuk memastikan hasil pengamatan, tim Bosscha akan melakukan pemantauan di dua lokasi utama, yakni Lembang, Jawa Barat, serta Observatorium Lhok Nga di Aceh.
Wilayah Aceh dipilih karena berada di batas kriteria visibilitas hilal yang digunakan saat ini, sehingga hasilnya menjadi rujukan penting dalam Sidang Isbat. (ndo)
