BERIKABARNEWS l – Industri penerbangan global tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga avtur dan ketidakpastian ekonomi dunia. Namun di tengah situasi tersebut, pendiri AirAsia, Tony Fernandes, justru menyiapkan langkah ekspansi dengan merancang peluncuran maskapai baru.
Langkah berani itu menjadi sorotan karena banyak maskapai saat ini memilih menahan ekspansi demi mengurangi beban operasional. Kenaikan harga bahan bakar penerbangan membuat industri aviasi global harus melakukan efisiensi, termasuk memangkas jumlah penerbangan.
Meski demikian, Fernandes melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk memperkuat bisnis penerbangannya di masa depan.
Berdasarkan laporan Bloomberg News pada Kamis (7/5), pengumuman resmi terkait maskapai baru itu diperkirakan akan dilakukan dalam satu hingga dua bulan mendatang. Sejumlah pesawat bahkan disebut telah mulai dipindahkan untuk mendukung operasional perusahaan baru tersebut.
Walau belum ada pernyataan resmi dari pihak AirAsia, berbagai langkah finansial yang dilakukan perusahaan mengindikasikan adanya persiapan ekspansi besar.
Baca Juga : China Tolak Sanksi AS, Tetap Impor Minyak Iran
Fernandes diketahui tengah memperkuat posisi keuangan perusahaan melalui beberapa strategi. AirAsia berencana menerbitkan obligasi hingga senilai US$600 juta untuk memperkuat pendanaan di tengah tekanan industri penerbangan.
Selain itu, perusahaan juga sedang berdiskusi dengan sejumlah bank di Malaysia terkait refinancing atau pembiayaan kembali pinjaman guna menekan biaya bunga.
Di sisi lain, AirAsia tetap melanjutkan modernisasi armada. Maskapai tersebut mempertahankan pesanan 150 unit pesawat Airbus A220 buatan Kanada, ditambah opsi pembelian 150 unit tambahan untuk varian berkapasitas lebih besar.
Baca Juga : Isu Damai Iran Dorong Pelemahan Dolar AS
Keputusan meluncurkan maskapai baru ini muncul saat harga avtur terus bergejolak akibat ketegangan geopolitik global yang mempengaruhi pasar minyak dunia. Kondisi itu membuat biaya operasional maskapai meningkat tajam.
AirAsia bahkan sempat mengurangi jumlah penerbangan demi menjaga efisiensi perusahaan. Namun Fernandes tetap optimistis permintaan perjalanan udara akan tetap tinggi dan industri penerbangan bisa kembali pulih setelah kondisi global membaik.
Strategi ekspansi tersebut menunjukkan keyakinan Tony Fernandes bahwa bisnis penerbangan masih memiliki peluang besar untuk berkembang meski dibayangi krisis avtur dan fluktuasi harga energi dunia.*
Sumber :
Reuters
