BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Satgas Operasi Pemadaman dalam Operasi Kepolisian Kontingensi Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” memanfaatkan aplikasi Lancang Kuning untuk mendeteksi dan menangani titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, Sabtu (29/8/2026).
Melalui pemantauan secara real-time, petugas dapat mengetahui lokasi hotspot di kawasan rawan, termasuk hutan, lahan gambut, area perbatasan konsesi, hingga wilayah yang dekat dengan permukiman.
Setelah titik panas terdeteksi, personel langsung dikerahkan ke lokasi. Patroli dilakukan menggunakan sepeda motor trail dan kendaraan roda empat untuk menjangkau medan yang sulit.
Baca Juga : Kapolda Kalbar Cek Karhutla Kubu Raya, 20 Hektare Lahan Gambut Terbakar
Kabidhumas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono, S.I.K., M.H., selaku Kasubsatgas Humas, mengatakan aplikasi Lancang Kuning membantu personel menentukan lokasi hotspot secara lebih cepat dan tepat.
“Pemanfaatan aplikasi Lancang Kuning ini sangat membantu personel kami bermanuver secara presisi untuk menjangkau hotspot, sehingga proses pendinginan dapat berlangsung cepat dan lingkungan kita tetap terjaga dari dampak kabut asap,” ujar Bambang.
Petugas kemudian melakukan pemadaman dan pendinginan menggunakan mesin air portabel, selang pemadam bertekanan tinggi, serta alat manual berupa gepyok.
Baca Juga : Polda Kalbar Terima 300 Brimob, Pasukan Karhutla Disebar ke 8 Kabupaten
Penanganan karhutla di lahan gambut membutuhkan metode khusus karena bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah.
Kasatgas Pemadaman AKBP Syarief Eddy, S.Sos., M.H., mengatakan petugas menggunakan pompa bertekanan tinggi dan nozzle tancap untuk menyiram lapisan bawah gambut.
“Kami melakukan teknik pemadaman khusus, yakni menyiram bawah permukaan tanah gambut menggunakan mesin pompa tekanan tinggi dan nozzle tancap untuk memastikan bara api yang tersembunyi benar-benar mati, sekaligus mencari titik sumber air terdekat untuk percepatan operasi,” kata Syarief.
Selain pemadaman, personel terus melakukan patroli dan penyisiran di kawasan yang rawan terbakar. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya titik api baru sekaligus mengantisipasi meluasnya karhutla dan dampak kabut asap di Kalimantan Barat.*
