BERIKABARNEWS l – Sihanoukville, kota pesisir di Kamboja, mendadak berubah menjadi lautan koper dan kendaraan yang berlalu-lalang. Ratusan orang terlihat meninggalkan gedung-gedung mewah, membawa barang elektronik hingga hewan peliharaan, menyusul penindakan besar-besaran pemerintah terhadap industri penipuan siber bernilai miliaran dolar.
Gelombang eksodus ini terjadi setelah salah satu buronan penipuan siber paling dicari, Chen Zhi, ditangkap dan dideportasi ke Tiongkok. Penangkapan tersebut memicu kepanikan di kalangan pekerja dan pengelola kompleks yang selama ini diduga menjadi pusat kejahatan siber lintas negara.
Salah satu lokasi yang paling mencolok adalah Kompleks Kasino Amber di Sihanoukville. Sejumlah pekerja terlihat pergi menggunakan tuk-tuk, bus pariwisata, hingga SUV mewah. Suasana kota diliputi ketidakpastian, dengan banyak aktivitas mendadak terhenti.
“Kamboja sedang kacau. Tidak ada lagi tempat aman untuk bekerja,” ujar seorang pria asal Tiongkok yang dikutip dari AFP.
Sihanoukville dikenal sebagai salah satu pusat jaringan penipuan siber dengan modus “pig butchering”, yakni skema penipuan yang memanfaatkan hubungan romantis palsu dan investasi kripto fiktif. Dari kawasan Asia Tenggara, sindikat ini diperkirakan meraup puluhan miliar dolar setiap tahun dari korban di berbagai negara.
Meski pemerintah Kamboja mengeklaim tengah melakukan penegakan hukum secara tegas, sejumlah pengamat menilai operasi ini belum sepenuhnya efektif. Kaburnya para pekerja sebelum penggerebekan menimbulkan dugaan kebocoran informasi.
Perdana Menteri Hun Manet menyatakan komitmennya untuk memberantas penipuan siber hingga tuntas. Otoritas juga telah membekukan aset yang terkait dengan Prince Group, perusahaan milik Chen Zhi yang diduga menjadi bagian dari jaringan kejahatan transnasional.
Namun, analis menilai langkah ini masih bersifat simbolik jika tidak dibarengi pengawasan ketat dan reformasi struktural.
Baca Juga : Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Divonis 5 Tahun Penjara
Di balik industri gelap ini, tersimpan krisis kemanusiaan. Banyak pekerja merupakan korban perdagangan manusia yang direkrut dengan janji pekerjaan bergaji tinggi, tetapi kemudian dipaksa bekerja di bawah ancaman dan kekerasan.
Laporan PBB dan Amnesty International pada 2025 mencatat kerugian global akibat penipuan online mencapai sekitar US$37 miliar. Di Kamboja sendiri, diperkirakan lebih dari 100 ribu orang terlibat dalam industri ini, dengan puluhan lokasi aktif yang sebagian besar berada di Sihanoukville.
“Perusahaan di Tiongkok menyuruh kami segera pergi. Tapi pekerjaan seperti ini selalu ada di tempat lain,” ujar seorang pekerja asal Bangladesh, menggambarkan mudahnya jaringan ini berpindah lokasi.
Penangkapan Chen Zhi menjadi sinyal kuat meningkatnya tekanan dari Tiongkok terhadap sindikat penipuan yang menyasar warganya. Namun, bagi Kamboja, tantangan terbesar adalah membuktikan bahwa penindakan ini bukan sekadar pencitraan, melainkan upaya serius mengakhiri praktik kejahatan terorganisasi. (ing)
Sumber :
AFP
