BERIKABARNEWS l SARAWAK – Penemuan manuskrip langka peninggalan Sultan pertama Sarawak menjadi perhatian dunia sejarah dan kebudayaan Asia Tenggara. Naskah kuno beraksara Jawi yang diperkirakan berasal dari abad ke-16 itu dinilai memiliki nilai sejarah tinggi dan diyakini mampu membuka kembali jejak awal Kesultanan Sarawak serta perkembangan peradaban Melayu di kawasan Borneo.
Manuskrip bersejarah tersebut ditemukan dan berhasil dialihbahasakan secara lengkap oleh Departemen Museum Sarawak (JMS) bersama Universitas Teknologi Mara (UiTM) Kampus Sarawak. Saat ini, Pemerintah Sarawak tengah menyiapkan dokumen tersebut untuk diajukan ke UNESCO melalui program warisan dokumen dunia “Memory of the World”.
Pengumuman penemuan manuskrip Sultan Tengah itu disampaikan usai Pertemuan Majelis Warisan Sarawak yang digelar baru-baru ini di Bumi Kenyalang.

Naskah kuno tersebut berjudul “Pengembaraan Sri Sultan dan Sultan Tengah ke Sebuah Gunung”. Manuskrip itu diyakini ditulis langsung oleh Sultan Tengah yang memiliki nama lengkap Sultan Ibrahim Ali Omar Shah Ibni Almarhum Sultan Muhammad Hassan.
Di dalam manuskrip, tercatat kisah perjalanan hidup Sultan Tengah bersama orang-orang di sekelilingnya pada masa awal berdirinya Kesultanan Sarawak.
Sultan Tengah diketahui merupakan putra Sultan Brunei ke-9 yang memerintah pada tahun 1582 hingga 1598. Ia kemudian diangkat menjadi Sultan Sarawak pertama pada tahun 1599 sebagai langkah untuk menghindari perebutan kekuasaan dengan sang kakak, Sultan Abdul Jalilul Akhbar, yang kemudian naik takhta sebagai Sultan Brunei ke-10.
Namun, perjalanan hidup Sultan Tengah tidak berhenti di Sarawak. Berdasarkan catatan sejarah, ia melakukan perjalanan panjang hingga memiliki hubungan erat dengan wilayah Kalimantan Barat saat ini.
Baca Juga : Rainforest World Music Festival 2026 Siap Guncang Sarawak Juni Mendatang
Dalam pengembaraannya, Sultan Tengah sempat singgah di Sukadana yang kini masuk wilayah Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Di daerah tersebut, ia disambut penguasa Sukadana dan kemudian menikah dengan Putri Surya Kesuma, saudara perempuan Sultan Muhammad Safiuddin atau Giri Mustika.
Dari pernikahan itu lahirlah keturunan yang kemudian memiliki pengaruh besar dalam sejarah kerajaan di pesisir barat Kalimantan.
Perjalanan Sultan Tengah kemudian berlanjut ke Sambas. Di wilayah ini, keturunannya menjadi bagian penting dalam berdirinya Kesultanan Sambas.
Putra sulung Sultan Tengah, Raden Sulaiman, diketahui mendirikan Kesultanan Sambas dan naik takhta dengan gelar Sultan Muhammad Safiuddin I.
Karena itu, sosok Sultan Tengah tidak hanya dihormati di Sarawak, tetapi juga dianggap sebagai leluhur penting bagi trah raja-raja Sambas di Kalimantan Barat.
Penelitian terhadap manuskrip setebal 179 halaman itu telah dimulai sejak tahun 2021. Setahun kemudian, tim peneliti berhasil menyelesaikan proses transliterasi dari tulisan Jawi klasik ke teks modern.
Saat ini, para peneliti masih melakukan analisis mendalam terhadap isi manuskrip guna memahami pemikiran, filosofi pemerintahan, hingga pandangan politik Sultan Tengah pada masa itu.
Keaslian manuskrip diperkuat dengan tulisan penutup pada halaman terakhir naskah yang diyakini dibuat langsung oleh Sultan Tengah.
Tulisan tersebut berbunyi, “Pangeran Tangah yang empunya chatera ini adanya,” yang menegaskan bahwa manuskrip tersebut merupakan milik Sultan Tengah.
Selain memiliki nilai sejarah tinggi, kondisi fisik manuskrip juga masih terjaga dengan baik meski telah berusia ratusan tahun.
Naskah itu memiliki ukuran tinggi 23,4 sentimeter, lebar 19 sentimeter, dan ketebalan mencapai 4,2 sentimeter. Setiap halaman berisi 17 baris tulisan tangan menggunakan aksara Jawi klasik abad ke-16 dengan bahasa istana Brunei lama.
Baca Juga : Investasi Malaysia 2025 Tembus RM426,7 Miliar, Sektor Teknologi Jadi Penggerak
Bagi para sejarawan dan filolog, manuskrip Sultan Tengah dianggap sebagai sumber primer penting untuk merekonstruksi sejarah awal Kesultanan Sarawak.
Dokumen tersebut juga dinilai mampu memberikan gambaran mengenai perkembangan bahasa Melayu klasik, budaya istana, hingga sistem pemerintahan di kawasan Borneo pada masa lampau.
Melihat besarnya nilai sejarah manuskrip itu, Pemerintah Sarawak berencana mendaftarkannya di bawah Ordonansi Warisan Sarawak 2019 sebelum diajukan secara resmi ke UNESCO.
Pemerintah Sarawak menargetkan manuskrip tersebut dapat masuk dalam daftar warisan dokumen dunia “Memory of the World”.
Jika berhasil memperoleh pengakuan UNESCO, manuskrip Sultan Tengah diyakini akan semakin memperkuat posisi Sarawak sebagai salah satu pusat studi manuskrip kuno dan sejarah Melayu di Asia Tenggara.
Selain fokus pada pelestarian manuskrip Sultan Tengah, Pertemuan Majelis Warisan Sarawak 2026 juga menetapkan enam situs sejarah baru sebagai cagar budaya yang dilindungi hukum.
Beberapa di antaranya adalah bangunan Old Nurses’ Quarters di Kuching, Mercusuar Tanjung Lobang di Miri, hingga jalur kereta api tua Sarawak beserta depo perawatannya.
Di sisi lain, sektor wisata sejarah di Sarawak juga mengalami peningkatan signifikan. Museum Industri Brooke Dockyard yang baru dibuka berhasil menarik sekitar 37 ribu pengunjung hanya dalam waktu satu bulan.
Untuk mendekatkan sejarah kepada generasi muda, pihak museum juga berencana menggelar pameran temporer besar pada tahun 2027 mendatang. Pameran tersebut akan menampilkan berbagai koleksi antik hasil donasi masyarakat, termasuk manuskrip kuno Sultan Tengah yang baru ditemukan.**
