BERIKABARNEWS l KUCHING – Pemerintah Negara Bagian Sarawak, Malaysia, menjajaki peluang pasokan beras dari Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, melalui jalur perbatasan darat Aruk-Biawak. Rencana ini bertujuan memperkuat kerja sama pertanian dan perdagangan antara Indonesia dan Malaysia.
Menteri Industri Makanan, Komoditas, dan Pembangunan Wilayah Sarawak, Datuk Seri Dr. Stephen Rundi Utom, menyampaikan rencana tersebut dalam pidato penutupan kementeriannya di Dewan Undangan Negeri (DUN) Sarawak.
Menurut Stephen, usulan pasokan beras dari Sambas menjadi salah satu pembahasan dalam forum Komite Sosio-Ekonomi Malaysia-Indonesia (SOSEK MALINDO). Pelaksanaannya masih menunggu persetujuan regulasi dan penjelasan teknis dari kedua negara.
“Kerja sama bilateral ini berfokus pada pengembangan tanaman padi, perdagangan beras lintas batas, serta koordinasi urusan ekspor-impor produk pertanian secara lebih efisien,” ujar Stephen.
Ia mengatakan, pemerintah Sarawak akan terus berkoordinasi dengan Indonesia untuk memenuhi persyaratan regulasi, memperkuat rantai pasok, dan membuka peluang investasi yang menguntungkan kedua pihak.
Baca Juga : Sarawak Buka Kantor Perdagangan dan Pariwisata di Pontianak
Selain menjajaki perdagangan beras, Sarawak juga mengembangkan pemanfaatan limbah pertanian menjadi pupuk kompos organik menggunakan mikroorganisme alami bermanfaat atau Beneficial Natural Microorganisms (BIMO).
Limbah kulit durian, batang pisang, tongkol jagung, dan sisa buah nanas diolah menjadi pupuk padat maupun cair untuk mendukung ekonomi hijau dan sirkular. Hasil pengujian menunjukkan pupuk dari limbah tersebut mampu menghasilkan produktivitas tanaman yang setara dengan pupuk kimia.
Pengelolaan limbah juga didukung Program Pemberdayaan Industri Black Soldier Fly (BSF) yang digagas Malaysian Bioeconomy Corporation. Program ini berfokus pada pengelolaan sampah dan produksi protein berkelanjutan.
Sebanyak 364 peserta mengikuti program tersebut. Dari jumlah itu, 20 peserta terpilih mendapat pendampingan kewirausahaan selama tiga bulan. Mereka kemudian memperoleh pendapatan tambahan rata-rata RM1.100 atau sekitar Rp3,9 juta per bulan dari penjualan larva dan telur lalat tentara hitam kepada perusahaan-perusahaan utama.
Di bidang keamanan biologis perairan, Pemerintah Sarawak menjalankan empat inisiatif pengawasan penyakit ikan serta enam program pemantauan dan pemusnahan spesies ikan invasif di sejumlah sistem sungai utama.
Baca Juga : SAREX MALINDO-45 2026, Indonesia-Malaysia Perkuat SAR
Sementara itu, promosi produk pertanian lokal melalui berbagai festival juga mencatat hasil positif. Rangkaian Mini Agrofest di Limbang, Pakan, Sebauh, Serian, Kapit, dan Dalat serta Sarawak Agrofest 2026 di Bintulu menarik total 2,56 juta pengunjung dengan nilai transaksi RM8,1 juta.
Adapun Program Jualan Agro Sarawakku Sayang yang digelar bersama Lembaga Pemasaran Pertanian Persekutuan (FAMA) di 15 lokasi di Sarawak mencatat 30.122 pengunjung dan nilai penjualan RM928.416.
Stephen mengatakan, berbagai program dan pameran tersebut bertujuan meningkatkan pengenalan produk pertanian Sarawak, mendorong penjualan, serta memperluas akses pasar di tingkat negara bagian maupun nasional.*
